Marboru Tulang
By: Leeza
Awan gelap dilangit menyelimuti
kota kelahiranku sepertinya langit akan menumpahkan segala air yang ada
dilangit kota kelahiranku Sidikalang-Sumatera Utara. Kupanangi langit dengan
seksama terlihat kilat yang mulai menyambar ikut mengatakan akan terjadi hujan
lebat dikota kelahiranku ini, suasana langit yang sangat gelap sama dengan
suasana hatiku saat ini. Bagimana tidak orang yang kucintai hari ini telah
dipinang orang, masih teringat saat-saat indah menjalin ikatan kasih diantara
kami. Janji setia pernikahan yag terucap di depan pendeta membuat jantungku
lepas tapi aku harus tegar karena aku adalah laki-laki keturunan batak yang
terdidik dengan ketegaran terbayang dalam pikiranku seharusnya akulah yang
berdiri disamping dia saat ini. Tapi itu hanyalah bayangan.
Aku duduk terdiam di deretan
para jemaat, aku berjanji akan mengantarkannya pada altar penikahan dan
menyanyikan lagu untuknya.
“Bang...,” Ucapannya begitu sayu
suatu sore hari di kota Medan ditempat kami sama-sama bekerja
“Ia anggi.., ada apa?” tanyaku
tanpa melihat kearahnya sambil merapikan buku-buku yang ada dimeja kerjaku
“Aku....,aku...” Kalimatnya
terputus sesaat sambil tertunduk
Aku segera
menghantikan gerakan tanganku merapikan meja kerjaku dan berjalan kearahnya
lalu mengambil posisi duduk disampingnya
“Ada apa anggi?” Tanyaku mencoba
mengangkat wajahnya, betapa terkejutnya aku melihat dia meneteskan airmata,
tiba-tiba dia memelukku dengan erat an menangis terisak di pelukanku, kucoba
untuk menenangkannya dengan melepaskan dia dari pelukanku kuhapus airmatanya
dari kedua kelopak matanya
“Ada Apa Gerangan Anggi?”
Tanyaku pelan sambil memegang tanganya dengan lembut
“Aku..., Aku akan menikah...”
“Ia..., kita akan menikah...,
Memang kita akan menikah kan anggi..” Jawabku tersenyum, ternyata itu yang
membuat dia menangis , tidak ada dalam bayanganku apa yang akan dia katakan..
“Tapi masalahnya bang..., aku
akan menikah dengan orang lain...”
Bagaikan
disengat listrik aku mendengar kalimat dari bibir Hasianku, serasa dalam mimpi aku mendengarnya. Aku spontan berdiri tetapi dia hanya
tertunduk sambil menangis terisak. Tak ada kata yang mampu aku ucapkan selain
terdiam. Aku mengambil jaket yang
tergantung didinding, kutarik tangannya kearah sepeda motor yang diparkir di
depan kosku. Aku terdiam sepanjang perjalanan. Kupandangi wajahnya dari kaca
spion motorku bening airmatanya masih menetes sesekali membasahi pipinya, ingin
rasanya aku memeluknya dan menenangkan hatinya sambil mengatakan semuanya akan
baik-baik saja tapi aku tidak sanggup harus kehilangan dia hasianku. Tujuan
utamaku adalah membawa dia ke taman Teladan medan tempat kami dulu berjanji
menjai sepasang kekasih. Aku akan siap menerima dengan lapang dada apapun yang
akanterjadi nantinya, tak terasa kami telah sampai di Taman Teladan Medan.
Kubawa Rosa Hasianku ketempat kami dulu jadian maka aku ingin kami memutuskan
ditempat yang sama, aku duduk dengan
pikiran kosong seperti kehilangan harta yang sangat berharga.
“Ros.., Dokkon ma aha do
namasa*?” Tanyaku dalam bahasa batak sama dia dengan ucapan nada datar dan
bersikap tenang.
“Molo au muli nama au tu tinodo
ni Da amang*” Kata Rosa sambil terisak. Untuk kedua kalinya aku mendengar
kalimat yang sama
“Memangnya ada apa yang terjadi?
Kenapa selama ini anggi* diam saja?”
“Aku juga tidak pernah menduga
seperti ini, minggu lalu aku Bapa telepon bilang aku pulang ternyata beliau
tidak sakit tetapi dia sudah mencarikan jodoh padaku, dia Marga Kudadiri,
aku..........”
“Cukup.....,Jangan teruskan
lagi” Aku terdiam mendengarnya, selama inipun ayah hasianku tak menyetujui
hubungan kami. Karena kami berasal dari suku yang berbeda, dia suku Pak-pak
sementara aku suku batak toba tapi aku coba untuk tetap tenang meski hatiku
galau.
“Sudahlah...., pulanglah..., aku
antar pulang” Ucapku coba tegar, tapi dia tertunduk sambil terisak
“Hapus air matamu, Semoga Tuhan
Menyertaimu..,” Saat itu hanya itu
kalimat yang kutahu tak ada kalimat yang lain
“Aku menikah dengan paribanku
bang” Tiba-tiba ucapan itu serasa merontokkan seluruh tulang yang menyusun
kerangka tubuhku, kerongkonganku serasa di sumbat dengan tulang-belulang hingga
ku tak mampu berkata apapun.
“Pulanglah.....” Ucapku dengan
sikap tenang tanpa memandang wajahnya, pikiranku berubah arah hingga tak ada
niat sedikitpun untuk mengantarkannya pulang. Aku tak ingin melihat wajahnya
walau sebentar, aku hanya ingin pergi dari kehidupannya.
Undangan pernikahan itu
lagi-lagi membuatku tak berdaya
Berastagi,
Maret 2012
Bang.., aku menyadari semua ini
salahku, tapi apa ayaku bang sebagai anak yang telah dibesarkan oleh orang tua
angkat aku akan menurut semuanya, andaikan Bapa masih hidup aku bisa mengubah
keputusan sesulit apapun tapi kali ini aku tidak berdaya semua ini dilakukan
demi kebaikan keluarga kami. Maafkan aku bang, bukannya aku tidak mencintaimu
tapi apa dayaku bang, aku tak berdaya sedikitpun. Jika abang telah merelakan
aku maka datanglah pada pesta pernikahanku jika tidak aku akan menyesal seumur
hidup. Sekali lagi maafkan aku bang.
Salam
Rosa
kuremas
surat yang ada ditanganku sekuat tenaga, bagaimana mungkin aku rela membiarkan
orang yang aku cintai akan bersanding dengan pria lain, sepertinya sayapku
patah aku tidak dapat terbang lagi, aku hanya ingin terdiam dan ingin pergi ke
suatu tempat yang disana hanya ada tawa dan senyum. Suara tepuk tangan membangukan lamunanku
ditengah keramaian undangan, saatnya aku menyanyikan sebuah lagi perpisahan.
Kulangkahkan
kakiku ketengah altar gereja, meski kaki seraya goyah aku berusaha bertahan dan
kuat melihat orang yang aku cintai bersanding dengan laki-laki lain.kuraih
mikropon dengan perlahan, tak mampu ku menatap laki-laki yang kini bersanding.
Borhat maho
hasian, nang pe so rongkap hita nadua...”
Baik demi baik lagu itu kunyanyikan dengan perlahan, Rosa terdiam memandangiku, kuraih tangan haianku
yang kini telah menjadi istri orang lain
“Selamat ya Rosa.....” Ucapku mencoba tenang...
Kulangkahkan kakiku meninggalkan
altar gereja sambil meneteskan airmata. Suara hujan yang menggetar membubarkan
lamunanku. Tepat sudah satu bulan semuanya telah berlalu.
“ Omak...., Boru ni tulang i nga kawin*?”
“ Yang mana maksudmu Hot” Tanya
Ibuku sambil megupas bawang yang ditangannya
“Si Linda, yang di bandung”
“Napa tiba-tiba tanya itu sama
ibu, kayaknya belum tamat kuliahnya,
tapi kalau mau tanyankan saja sama tulangmu, sekalian tanya kabar tulangmu itu”
“Hmmm..”
“Tapi kenapa tiba-tiba tanya itu
sama omak, bukannya selama ini kamu tidak mau marboru tulang”
“Aku ingin marboru tulang mak,
kira-kira berapa sinamotnya dia ya mak”
“Sinamot itu sesuai dengan
kesepakatan nak, memangnya ada niat “
“Ia mak.., Daripada tu halak*”
“Tapi secara kedokteran bukannya
itu tidak bagus marihot, itu menurut yang pernah omak dengar, tapi itu omak
tidak tahu”
“Hanya Omongan itu mak,
kenyataannya tidak ada mak”
“Kalau tidak salah si Linda itu
kuliah di kedokteran bandung, kalau sudah lama di bandung, budaya bandungnya
sudah mengental nak, kurang tahu dia nanti soal adat-istiadat”
“Nanti aku ajarkan dia mak
maradat, Martutur dan Mardongantubu”
“Tapi bagaiman dengan si Rosa,
mau kau tinggalkan?”
“Sudah nikah mak”
“Kapan nak??”
“sudah sebulan mak”
“Nikah sma siapa dia”
“Sama Parbannya mak”
“bukan karena itu makanya mau
kau marboru tulang?.., “
“Tidak mak, aku hanya ingin
melestarikan budaya kita saja ak sekaligus ikatan persaudaraan kita mak, biar semarga omak dohot parumaen ni omak”
“Ia mak..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar