Sabtu, 05 Oktober 2013

CERPEN



Marboru Tulang
By: Leeza
                Awan gelap dilangit menyelimuti kota kelahiranku sepertinya langit akan menumpahkan segala air yang ada dilangit kota kelahiranku Sidikalang-Sumatera Utara. Kupanangi langit dengan seksama terlihat kilat yang mulai menyambar ikut mengatakan akan terjadi hujan lebat dikota kelahiranku ini, suasana langit yang sangat gelap sama dengan suasana hatiku saat ini. Bagimana tidak orang yang kucintai hari ini telah dipinang orang, masih teringat saat-saat indah menjalin ikatan kasih diantara kami. Janji setia pernikahan yag terucap di depan pendeta membuat jantungku lepas tapi aku harus tegar karena aku adalah laki-laki keturunan batak yang terdidik dengan ketegaran terbayang dalam pikiranku seharusnya akulah yang berdiri disamping dia saat ini. Tapi itu hanyalah bayangan.
                Aku duduk terdiam di deretan para jemaat, aku berjanji akan mengantarkannya pada altar penikahan dan menyanyikan lagu untuknya.
                “Bang...,” Ucapannya begitu sayu suatu sore hari di kota Medan ditempat kami sama-sama bekerja
                “Ia anggi.., ada apa?” tanyaku tanpa melihat kearahnya sambil merapikan buku-buku yang ada dimeja kerjaku
                “Aku....,aku...” Kalimatnya terputus sesaat sambil tertunduk
Aku segera menghantikan gerakan tanganku merapikan meja kerjaku dan berjalan kearahnya lalu mengambil posisi duduk disampingnya
                “Ada apa anggi?” Tanyaku mencoba mengangkat wajahnya, betapa terkejutnya aku melihat dia meneteskan airmata, tiba-tiba dia memelukku dengan erat an menangis terisak di pelukanku, kucoba untuk menenangkannya dengan melepaskan dia dari pelukanku kuhapus airmatanya dari kedua kelopak matanya
                “Ada Apa Gerangan Anggi?” Tanyaku pelan sambil memegang tanganya dengan lembut
                “Aku..., Aku akan menikah...”
                “Ia..., kita akan menikah..., Memang kita akan menikah kan anggi..” Jawabku tersenyum, ternyata itu yang membuat dia menangis , tidak ada dalam bayanganku apa yang akan dia katakan..
                “Tapi masalahnya bang..., aku akan menikah dengan orang lain...”
Bagaikan disengat listrik aku mendengar kalimat dari bibir Hasianku,  serasa dalam mimpi aku mendengarnya.  Aku spontan berdiri tetapi dia hanya tertunduk sambil menangis terisak. Tak ada kata yang mampu aku ucapkan selain terdiam.  Aku mengambil jaket yang tergantung didinding, kutarik tangannya kearah sepeda motor yang diparkir di depan kosku. Aku terdiam sepanjang perjalanan. Kupandangi wajahnya dari kaca spion motorku bening airmatanya masih menetes sesekali membasahi pipinya, ingin rasanya aku memeluknya dan menenangkan hatinya sambil mengatakan semuanya akan baik-baik saja tapi aku tidak sanggup harus kehilangan dia hasianku. Tujuan utamaku adalah membawa dia ke taman Teladan medan tempat kami dulu berjanji menjai sepasang kekasih. Aku akan siap menerima dengan lapang dada apapun yang akanterjadi nantinya, tak terasa kami telah sampai di Taman Teladan Medan. Kubawa Rosa Hasianku ketempat kami dulu jadian maka aku ingin kami memutuskan ditempat yang sama,  aku duduk dengan pikiran kosong seperti kehilangan harta yang sangat berharga.
                “Ros.., Dokkon ma aha do namasa*?” Tanyaku dalam bahasa batak sama dia dengan ucapan nada datar dan bersikap tenang.
                “Molo au muli nama au tu tinodo ni Da amang*” Kata Rosa sambil terisak. Untuk kedua kalinya aku mendengar kalimat yang sama
                “Memangnya ada apa yang terjadi? Kenapa selama ini anggi* diam saja?”
                “Aku juga tidak pernah menduga seperti ini, minggu lalu aku Bapa telepon bilang aku pulang ternyata beliau tidak sakit tetapi dia sudah mencarikan jodoh padaku, dia Marga Kudadiri, aku..........”
                “Cukup.....,Jangan teruskan lagi” Aku terdiam mendengarnya, selama inipun ayah hasianku tak menyetujui hubungan kami. Karena kami berasal dari suku yang berbeda, dia suku Pak-pak sementara aku suku batak toba tapi aku coba untuk tetap tenang meski hatiku galau.
                “Sudahlah...., pulanglah..., aku antar pulang” Ucapku coba tegar, tapi dia tertunduk sambil terisak
                “Hapus air matamu, Semoga Tuhan Menyertaimu..,”  Saat itu hanya itu kalimat yang kutahu tak ada kalimat yang lain
                “Aku menikah dengan paribanku bang” Tiba-tiba ucapan itu serasa merontokkan seluruh tulang yang menyusun kerangka tubuhku, kerongkonganku serasa di sumbat dengan tulang-belulang hingga ku tak mampu berkata apapun.
                “Pulanglah.....” Ucapku dengan sikap tenang tanpa memandang wajahnya, pikiranku berubah arah hingga tak ada niat sedikitpun untuk mengantarkannya pulang. Aku tak ingin melihat wajahnya walau sebentar, aku hanya ingin pergi dari kehidupannya. 
                Undangan pernikahan itu lagi-lagi membuatku tak berdaya
Berastagi, Maret 2012
             Bang.., aku menyadari semua ini salahku, tapi apa ayaku bang sebagai anak yang telah dibesarkan oleh orang tua angkat aku akan menurut semuanya, andaikan Bapa masih hidup aku bisa mengubah keputusan sesulit apapun tapi kali ini aku tidak berdaya semua ini dilakukan demi kebaikan keluarga kami. Maafkan aku bang, bukannya aku tidak mencintaimu tapi apa dayaku bang, aku tak berdaya sedikitpun. Jika abang telah merelakan aku maka datanglah pada pesta pernikahanku jika tidak aku akan menyesal seumur hidup. Sekali lagi maafkan aku bang.
Salam
Rosa
                   kuremas surat yang ada ditanganku sekuat tenaga, bagaimana mungkin aku rela membiarkan orang yang aku cintai akan bersanding dengan pria lain, sepertinya sayapku patah aku tidak dapat terbang lagi, aku hanya ingin terdiam dan ingin pergi ke suatu tempat yang disana hanya ada tawa dan senyum.  Suara tepuk tangan membangukan lamunanku ditengah keramaian undangan, saatnya aku menyanyikan sebuah lagi perpisahan.
                   Kulangkahkan kakiku ketengah altar gereja, meski kaki seraya goyah aku berusaha bertahan dan kuat melihat orang yang aku cintai bersanding dengan laki-laki lain.kuraih mikropon dengan perlahan, tak mampu ku menatap laki-laki yang kini bersanding.
                   Borhat maho hasian, nang pe so rongkap hita nadua...”
Baik demi baik lagu itu kunyanyikan dengan perlahan, Rosa  terdiam memandangiku, kuraih tangan haianku yang kini telah menjadi istri orang lain
“Selamat ya Rosa.....” Ucapku mencoba tenang...
                Kulangkahkan kakiku meninggalkan altar gereja sambil meneteskan airmata. Suara hujan yang menggetar membubarkan lamunanku. Tepat sudah satu bulan semuanya telah berlalu.
                “ Omak....,  Boru ni tulang i nga kawin*?”
                “ Yang mana maksudmu Hot” Tanya Ibuku sambil megupas bawang yang ditangannya
                “Si Linda, yang di bandung”
                “Napa tiba-tiba tanya itu sama ibu, kayaknya  belum tamat kuliahnya, tapi kalau mau tanyankan saja sama tulangmu, sekalian tanya kabar tulangmu itu”
                “Hmmm..”
                “Tapi kenapa tiba-tiba tanya itu sama omak, bukannya selama ini kamu tidak mau marboru tulang”
                “Aku ingin marboru tulang mak, kira-kira berapa sinamotnya dia ya mak”
                “Sinamot itu sesuai dengan kesepakatan nak, memangnya ada niat “
                “Ia mak.., Daripada tu halak*”
                “Tapi secara kedokteran bukannya itu tidak bagus marihot, itu menurut yang pernah omak dengar, tapi itu omak tidak tahu”
                “Hanya Omongan itu mak, kenyataannya tidak ada mak”
                “Kalau tidak salah si Linda itu kuliah di kedokteran bandung, kalau sudah lama di bandung, budaya bandungnya sudah mengental nak, kurang tahu dia nanti soal adat-istiadat”
                “Nanti aku ajarkan dia mak maradat, Martutur dan Mardongantubu”
                “Tapi bagaiman dengan si Rosa, mau kau tinggalkan?”
                “Sudah nikah mak”
                “Kapan nak??”
                “sudah sebulan mak”
                “Nikah sma siapa dia”
                “Sama Parbannya mak”
                “bukan karena itu makanya mau kau marboru tulang?.., “
                “Tidak mak, aku hanya ingin melestarikan budaya kita saja ak sekaligus ikatan persaudaraan kita mak,  biar semarga omak dohot parumaen ni omak”
                “Ia mak..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar